SISTEM INFORMASI DAN PENGENDALIAN INTERNAL
(SI – PI)
Siklus Produksi
Implementasi pada PT. API
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Hapzi Ali, MM, CMA
Dibuat oleh :
Min Sururi Anfusina
(55517120053)
A.
Siklus Produksi
Siklus produksi merupakan salah satu
bagian yang terkait dengan sistem pemrosesan transaksi, pada PT. API proses
produksi terkait dengan aktifitas membuat barang mentah menjadi barang jadi, PT
API merupakan perusahaan yang memproduksi bagian aksesoris untuk berbagai jenis
sepatu,namun sampai sekarang spesifikasi aksesoris yang dibuat adalah jenis
sepatu running dan sports dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai
dengan pemesanan maka diperlukan sebuha sistem informasi pada siklus produksi
selain harapan produk berkualitas tinggi, proses kerja yang efisien dan efektif
serta mudah untuk dilaksanakan penting dalam sebuah proses produksi.
Menurut Kirana (2013) Sistem Produksi
adalah sebuah subsistem dari sistem informasi akuntansi yang berada di dalam
kategori transaction processing system (TPS).
Sistem ini adalah sistem yang berisi serangkaian aktivitas bisnis dan kegiatan
pengolahan data yang mempunyai hubungan dengan proses pembuatan suatu produk.
Sistem ini tentunya berhubungan secara langsung dengan sub-sistem yang lain
seperti siklus pendapatan, siklus pengeluaran, siklsus buku besar dan
pelaporan.
Siklus produksi merupakan serangkaian
kegiatan utama dalam perusahaan manufaktur Tujuan utama dari siklus produksi
adalah untuk mempermudah perubahan bahan baku menjadi produk jadi. Selain itu
siklus produksi bertujuan untuk menjaga tingkat mutu produk, karena dalam
siklus produksi mencakup fungsi-fungsi perencanaan dan pengedalian produksi,
pengolahan bahan baku, penyelesaian dan transfer barang jadi. Apabila
fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan dengan benar maka akan menghasilkan
produk yang bermutu sesuai dengan keinginnan perusahaan maupun pelanggan.(Hastoni
et al, 2005)
B.
Aktifitas- Aktifitas dalam Siklus Prouksi
Aktivitas-aktivitas
dalam sistem produksi meliputi :
1) Perancangan produk (product design),
Tahap
pertama dalam suatu sistem produksi adalah merancang sebuah produk. Kegiatan
ini mempunyai tujuan untuk merancang sebuah produk yang memenuhi kualitas, lama
pengerjaan, dan biaya produksi seperti yang diinginkan oleh pelanggan.
Ada beberapa dokumen yang
dihasilkan dari kegiatan ini, diantaranya adalah :
a)
Daftar
Kebutuhan Bahan (Bill of Material), sebuah
dokumen yang berisi rincian bahan baku, baik spesifikasi, kode, nama, dan
kauntitas setiap bahan baku yang akan digunakan dalam produksi
b)
Daftar
kegiatan (operation list/routing sheet)
dokumen yang berisi ketetapan tenaga kerja dan juga syarat mesin yang akan
digunakan untuk membuat produk. Dokumen ini juga menjabarkan secara jelas
tahap-tahap yang diperlukan untuk membuat produk
2) Perencanaan dan
penjadwalan (planning & scheduling)
Tahap
selanjutnya dari sistem produksi adalah untuk membuat rencana dan jadwal dari
aktivitas produksi . Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan produksi
dilakukan untuk memenuhi pesanan yang ada menjadi efisien, dan memungkinkan
untuk memenuhi permintaan jangka pendek, tanpa menghasilkan jumlah produk yang
berlebih. Terdapat 2 metode untuk membuat rencana produksi (Romney, 2012) dalam
Kirana (2013), yaitu :
a)
Perencanaan Sumber Daya Manufaktur (Manufacturing Resource Planning/MRP-II). Metode ini merupakan metode yang
bertujuan untuk menyeimbangkan antara kapasitas produksi yang saat ini dimiliki
perusahaan dengan kebutuhan bahan baku untuk memenuhi permintaan pembelian yang
diramalkan akan terjadi. Istilah lain dari metode ini adalah push manufacturing system, karena barang
diproduksi atas dasar ekspektasi permintaan
konsumen
b)
Sistem
manufaktur Just-in-time (JIT). Metode ini bertujuan untuk
meminimalisasi atau
menghapuskan persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi.
Just in Time (JIT) mendasarkan pada
delapan kunci utama, yaitu :
·
menghasilkan
produk yang sesuai dengan jadwal yang didasarkan pada permintaan.
·
memproduksi
dengan jumlah kecil
·
menghilangkan pemborosan
·
memperbaiki
aliran produksi
·
menyempurnakan
kualitas produk
·
orang-orang
yang tanggap
·
menghilangkan ketidakpastian
·
penekanan
pada pemeliharaan jangka panjang.
Menurut Kirana
(2013) ada bebrapa persyaratan dalam penerapan sistem JIT, yaitu:
a.
Organisasi
Pabrik
b.
Pelatihan/Tim/keterampilan
c.
Membentuk Aliran/Penyederhanaan
d.
Kanbal
Pull System
e.
Visibiltas
/ pengendalian visual
f.
Eliminasi Kemacetan
g.
Ukuran
Lot Kecil Dan Pengurangan Waktu Setup.
h.
Total
Productive Maintance
i.
Kemampuan Proses, Statistical
Proses Control (SPC) dan Perbaikan Berkesinambungan.
j.
penekanan
pada pemeliharaan jangka panjang.
3) kegiatan produksi (production)
Tahap selanjutnya dari
siklus produksi adalah melakukan proses
produksi, pada tiap-tiap perusahaan aktifits ini memiliki perbedaan tergantung
dari jenis barang yang diproduksi nya, atau segmen usahanya.
4) Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya
merupakan tahap akhri dari proses produksi, menurut Kirana (2013) tujuan dari
akuntansi Biaya adalah sebagai berikut:
1.
Menghasilkan informasi yang berguna
untuk perencanaan, pengendalian, dan
pengendalian kerja dari sebuah
kegiatan produksi
2.
Menghasilkan informasi yang terperinci
dan akurat tentang biaya produksi sehingga bisa menjadi dasar untuk menentukan
harga (pricing) dan membantu
manajemen untuk mengambil keputusan mengenai bauran produk (product mix) yang akan digunakan oleh perusahaan.
1.
Menghasilkan informasi yang dapat
digunakan untuk menetapkan nilai persediaan dan harga pokok penjualan
a. Metode Pengumpulan Biaya
1) Data penggunaan material
2) Data biaya tenaga
kerja langsung
3) Data penggunaan
mesin dan peralatan
b. Metode
Akumulasi Biaya
1. Job order costing
Pendekatan
umum langkah-langkah job costing adalah sebagai berikut :
a)
Identifikasikan job yang dipilih untuk
menjadi objek biaya. Job tersebut berdasarkan dokumen sumber yaitu catatan asli
yang mendukung entri jurnal dalam sistem akuntansi, salah satunya di antaranya
adalah job cost record (job cost sheet), yaitu catatan dan akumulasi biaya yang
dibebankan ke job tertentu, dimulai saat job tersebut mulai dikerjakan.
2) Identifikasikan
biaya langsung dari job, yaitu:
a. Direct materials
b. Direct manufacturing
labor.
3)
Pilih dasar alokasi biaya yang digunakan untuk
mengalokasikan biaya tidak langsung ke job.
4)
Identifikasikan biaya tidak langsung yang
terasosiasikan dengan setiap dasar alokasi biaya
5) Hitung tarif (rate) per unit dari setiap dasar alokasi biaya yang digunakan untuk
mengalokasikan biaya tidak langsung ke job
6) Hitung
biaya tidak langsung yang dialokasikan ke masing-masing job
7)
Hitung total biaya dari setiap job dengan
menjumlahkan biaya langsung danbiaya tidak langsung yang telah ditempatkan pada
masing-masing job
2. Process
Costing
Sistem process costing membagi total keseluruhan biaya produksi
dengan total unit barang atau jasa yang diproduksi sehingga diperoleh biaya per
unit
Hansen dan Mowen (2007) dalam Kirana (2013) mendefinisikan lima
langkah dalam sistem process costing:
a). Membuat
ringkasan arus unit fisik output. Tujuannya adalah untuk melacak unit fisik
produksi. Unit fisik adalah jumlah satuan unit yang berada dalam tiap tahap
produksi. Analisis dilakukan dengan membuat daftar arus fisik yang terdiri atas
unit yang masuk di awal dengan unit yang keluar menjadi barang akhir dan WIP
akhir.
b). Menghitung
output dalam unit ekuivalen. Setelah mendapat informasi unit fisik barang, unit
ekuivalen dihitung dengan mengalikan unit fisik dengan persentase penyelesaian
tahap produksi di departemen tersebut. Perbedaan metode weighted average dengan
FIFO adalah unit ekuivalen WIP awal tidakdihitung sebagai bagian dari total
unit ekuivalen, hanya unit ekuivalen periode saat ini saja yang dihitung.
Sementara weighted average menghitung seluruh unit ekuivalen yang masuk dalam
tahap produksi karena menghitung kembali sisa unit ekuivalen dari pekerjaan
periode sebelumnya dimasukkan menjadi unit periode ini.
c). Menghitung
total manufacturing cost. Seluruh biaya yang dikeluarkan pada periode ini dalam
rangka menghasilkan produk dihitung untuk selanjutnya dibagi dengan total unit
ekuivalen. Perlu diingat bahwa biaya yang dikeluarkan untuk persediaan awal
harus dikecualikan dari perhitungan manufacturing cost periode ini.
d). Menghitung
valuasi persediaan. Total manufacturing cost dibagi dengan masing- masing unit
ekuivalen dalam WIP dan barang jadi. Langkah ini akan memberi informasi pada
manajemen berapa biaya yang terkandung per unit ekuivalen dalam tiap tahap
produksi. Dengan mengalikan biaya per unit dengan total manufacturing cost,
manajemen dapat mengetahui nilai persediaan (WIP dan barang jadi) awal,
persediaan yang ditransfer ke gudang, dan persediaan akhir
e). Membuat
rincian rekonsiliasi biaya dengan menyiapkan production report. Laporan ini
menunjukkan total biaya yang dibebankan ke dalam produksi periode ini. Selain
itu, laporan ini juga memberikan informasi biaya WIP awal, persediaan barang
jadi, dan WIP akhir sekaligus memberikan informasi biaya yang ditransfer ke
departemen berikutnya atau ke gudang.
C.
Fungsi Terkait Siklus Produksi
Siklus produksi di dalam perusahaan
melibatkan fungsi penjualan, fungsi produksi, fungsi perencanaan dan pengawasan
produksi, , fungsi gudang, dan fungsi akuntansi biaya; yakni (Mulyadi, 2001):
1. Fungsi penjualan, dalam perusahaan
yang berproduksi secara massa, order produksi umumnya ditentukan bersama dalam
rapat bulanan antara fungsi pemasaran dan fungsi produksi. Fungsi penjualan
melayani order dari langganan berdasarkan persediaan produk jadi yang ada di
gudang.
2. Fungsi
produksi, fungsi ini bertanggung jawab atas pembuatan perintah produksi bagi
fungsi-fungsi yang ada di bawahnya yang akan terkait dalam pelaksanaan proses
produksi guna memenuhi permintaan produksi dari fungsi penjualan. Dalam
perusahaan yang besar, fungsi produksi biasanya dibantu oleh fungsi perencanaan
dan pengawasan produksi dalam pembuatan order produksi tersebut. Order produksi
tersebut dituangkan dalam bentuk tertulis dalam dokumen yang disebut surat
order produksi. Surat order produksi ini dilampiri dengan surat kebutuhan bahan
dan daftar kegiatan produksi Fungsi ini bertanggung jawab atas pelaksanaan
produksi sesuai dengan surat order produksi dan daftar kebutuhan bahan serta
daftar kegiatan produksi yang melampiri surat order produksi tersebut.
3. Fungsi
perencanaan dan pengawasan produksi, fungsi ini merupakaan fungsi staff yang
membantu fungsi produksi dalam merencanakan dan mengawasi kegiatan produksi.
Perencanaan produksi diwujudkan dalam perhitungan rencana kebutuhan bahan dan
peralatan yang akan digunakan untuk memproduksi pesanan yang diterima dari
fungsi penjualan. Rencana produksi dituangkan oleh fungsi ini dalam dokumen
daftar kebutuhan bahan dan daftar kegiatan produksi
4. Fungsi
gudang, fungsi ini bertanggung jawab atas pelayanan permintaan bahan baku,
bahan penolong dan barang lain yang digudangkan. Fungsi ini juga bertanggung
jawab untuk menerima produk jadi yang diserahkan oleh fungsi produksi
5. Fungsi
akuntansi biaya, fungsi ini bertanggung jawab untuk mencatat konsumsi berbagai
sumber daya yang digunakan untuk memproduksi pesanan. Pencatatan biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik untuk pesanan
tertentu dilakukan oleh fungsi ini dalam kartu harga pokok produk. Biaya
overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dicatat oleh fungsi ini dalam kartu biaya
D. Dokumen yang
Digunakan
Dokumen yang
digunakan dalam siklus produksi adalah (Mulyadi, 2001):
1.
Surat
order produksi, dokumen ini merupakan surat perintah yang dikeluarkan oleh
departemen produksi yang ditujukan kepada bagian-bagianyang terkait dengan
proses pengolahan produk untuk memproduksi sejumlah produk dengan spesifikasi,
cara produksi, fasilitas produksi, dan jangka waktu seperti yang tercantum
dalam surat order produksi tersebut
2.
Daftar
kebutuhan bahan, dokumen ini merupakan daftar jenis dan kuantitas bahan baku
yang diperlukan untuk memproduksi produk seperti yang tercantum dalam surat
order produksi.
3.
Daftar
kegiatan produksi, dokumen ini merupakan daftar urutan jenis kegiatan dan
fasilitas mesin yang diperlukan untuk memproduksi produk seperti yang tercantum
dalam surat order produksi.
4.
Bukti
permintaan dan pengeluaran barang gudang, dokumen ini digunakan oleh fungsi
produksi untuk meminta bahan baku dan bahan penolong untuk memproduksi produk
yang tercantum dal surat order produksi, dokumen ini juga berfungsi sebagai
bukti pengeluaran barang dari gudang.
5.
Bukti
pengembalian barang gudang, dokumen ini digunakan untuk mengembalikan bahan
baku dan bahan penolong ke fungsi gudang, ini dikarenakan adanya sisa bahan
baku dan bahan penolong yang tidak dipakai dalam proses produksi.
6.
Kartu
jam kerja, dokumen ini mencatat jam kerja tenaga kerja langsung yang dikonsumsi
untuk memproduksi produk yang tercantum dalam surat order produksi.
7.
Laporan produk selesai, dokumen ini berfungsi
untuk memberitahukan selesainya produksi pesanan tersebut kepada fungsi
perencanaan dan pengawasan produksi, fungsi gudang, fungsi penjualan dan fungsi
akuntansi persediaan dan fungsi akuntansi biaya.
8.
Bukti
memorial (journal voucher), dokumen ini digunakan sebagai dasar
pencatatan depresiasi aktiva tetap berwujud, amortisasi sewa dan aktiva tidak
berwujud, dan pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk berdasarkan
tarif yang ditentukan di muka.
9.
Bukti
kas keluar, dokumen ini digunakan untuk mencatat biaya-biaya yang dibayar lewat
kas.
E. Pelaksanaan Siklus Produksi pada
PT. API
Berikut
merupakan aktifitas –aktifitas yang terkait dengan siklus produksi pada PT. API
1) Tahap
Pengenalan Produk
Pada tahap ini bagian
sampling yang berwenang untuk mengerjakan produk-produk yang akan dipesan oleh
customer, customer akan memberikan ga,bar cetak model sepatu dan bentuk
aksesoris yang diinginkan dari berbagai macam jenis aksesoris dari beberapa
model sepatu kemudian bagian sampling menyiapkan bentuk sampel aksesoris dari
sekian model yang disiapkan di bagian luxy (merupakan sub bagian dari sampel)
model yang disetujui customer kemudia masuk dalam promo sampel, setelah semua
sudah sesuai kemudian dibuatkan bentuk form cofirm barang yang berisi nama
barang, nomer pemesanan, jumlah pemesanan, komponen-komponen yang dibutuhkan,
seluruh detail barang dijelaskan pada dokumen confirm tersebut.
2) Tahap
Perencanaan Kerja
Pada tahap ini seluruh
ketua regu, mandor, pengawas menyusun kerangka kerja yang harus di laksanakan
untuk memproses pemesanan yang telah dikirimkan customer berdasarkan form
confirm,kerangka kerja berisi prosedur kerja yang diharus dilaksakan untuk
memproses barang, jadwal kerja, bagaimana mencapai target dan kualitas barang
yang tebaik.
3) Tahap
Produksi
Tahap selanjutnya dari
siklus produksi adalah melakukan proses
produksi, pada tahap ini barang pesananan diproduksi dengan acuan kernagka
kerja yang telah dibuat, kegiatan yang dilakukan di pada proses produksi
pertama adalah dipegang oleh bagian operator, bagian operator yang bertanggung
jawab membuat barang setengah jadi tersebut menjadi barang jadi sesuai pesanan,
kemudian setelah barang diselesaikan oleh operator selanjutanya akan masuk ke
bagian finishing. Bagian finishing
disini bertugas menyelesaikan proses akhir barang, memastikan barang dalam
keadaan baik dan sudah sesuai dengan pesanan yang diminta, selanjutanya setelah
bagian finsihing barang akan masuk ke bagian Quality Assurance. bagaian QA bertanggung jawab atas kualitsa
barang sebelum dikirm ke customer, memastikan bahwa barang yng diproduksi telah
lolos dari kecatatan produksi, memastikan jumlah barang jadi sesuai dengan
jumlah pesanan yang diminta, untuk itu bagian QA juga memegang dokumen confirm
barang, karna dasar pengecekan pemesanan berdasarkan form tersebut.
4) Akuntansi
Biaya
Pada PT. API metode pengakumulasian
biaya dilakukan dengan metode job order
costing , dimana metode job order
costing adalah cara perhitungan harga pokok produksi untuk produk yang
dibuat berdasarkan pesanan. Apabila suatu pesanan diterima segera dikeluarkan
perintah untuk membuat produk sesuai dengan spesifikasi masing-masing pesanan.
Untuk mempermudah perhitungan biaya produksi tiap-tiap pesanan maka masing-masing
produk yang dikerjakan diberi nomor identitas. Karna tiap proses produksi yang
dijalankan oleh PT. API hanya dikerjakan berdasarkan pesanan terlebih dahulu
dari customer, maka dari itu perhitungan berdasarkan job order costing dirasa
lebih relevan untuk dilaksakan.
F. Dokumen Terkait Siklus Produksi di
PT. API
1.
Pemesanan barang
2.
Material Request
3.
Form Confirm
4.
Form Barang keluar
5.
Laporan Barang selesai
6.
Kartu Jam Kerja
Sumber
:
Kirana, Wirabhama.
2013, “Analisis Sistem Informasi Akuntansi Siklus Produksi Pada PT X”, Laporan
akhir magang,Universitas Indonesia,2013. (diakses 30 Mei 218 jam 15:30)
Hastoni dan Toni
Andrianto.2005 “Penerapan Sistem dan Prosedur Produksi Studi kasus pada PT.
Griver River International, Jurnal Ilmiah Ranggagading, Vol 5 no 2, Oktober
2005:99-105, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan Bogor . (diakses 31 Mei 2018
jam 14:30)
Sistem Informasi Siklus Produksi 2014
e-journal.uajy.ac.id/6738/3/EA217930.(diakses 30 Mei 218 jam 14:00)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar